Aksi Sapu Lidi: Emak-Emak Bersih-Bersih Senayan, Kursi DPR/DPRD Disebut “Kotor Sejak Dibeli Bohir”

Berita, Featured, NASIONAL215 Dilihat
banner 468x60

Detikinewsinfo.com] Senayan disapu. Bukan oleh petugas kebersihan, melainkan oleh emak-emak. Mereka membawa sapu lidi—alat sederhana yang biasanya dipakai untuk membersihkan rumah. Kali ini, sasarannya bukan debu, melainkan kotoran politik yang melekat pada kursi DPR dan DPRD.

Kursi Mahal, Kursi Kotor

banner 336x280

Pesan mereka tajam: kursi parlemen sudah kotor bahkan sebelum diduduki.

Untuk nyalon DPR atau DPRD, modal besar menjadi syarat utama. Suara rakyat seringkali tak gratis, melainkan dibeli. Dan ketika kursi sudah didapat, gaji serta tunjangan hanyalah receh. Yang lebih besar adalah kewajiban membayar utang budi kepada bohir.

“Yang duduk di kursi itu bukan lagi wakil rakyat, tapi wakil bohir,” sindir seorang emak peserta aksi.

Balas jasa kepada sponsor bisa berupa proyek, kebijakan pesanan, hingga korupsi berjamaah. Kursi yang seharusnya milik rakyat berubah jadi milik pemodal.

Dari Daerah Sampai Pusat

Fenomena ini bukan cerita baru, dan bukan hanya terjadi di Senayan. Dari DPRD tingkat kota hingga provinsi, praktik serupa juga berlangsung.

Batam: reklamasi ilegal jalan terus meski aturan melarang, sementara kritik di medsos malah coba dibungkam dengan amplop.

Kalimantan: tambang ilegal merajalela, meninggalkan lubang maut di sekitar pemukiman.

Sumatera: mafia sawit dan lahan bergerak tanpa hambatan.

Jakarta: proyek titipan dan transaksi politik jadi rahasia umum.

Rakyat melihat, tapi suara mereka kerap dipadamkan dengan uang atau intimidasi.

Mafia Aman, Rakyat Tertindas

Tak heran bila mafia semakin kokoh:

Mafia minyak goreng tetap aman.

Mafia tambang makin kaya.

Mafia beras tidak tersentuh.

Mafia lahan ekspansi tanpa batas.

Semua ini terjadi karena kursi parlemen dibeli lebih dulu oleh para bohir.

Emak-Emak Angkat Sapu

Di rumah, suara emak biasanya menentukan. Kini, suara emak menggema di Senayan. Dengan sapu lidi di tangan, mereka memberi peringatan keras: jangan main-main dengan suara rakyat.

Pesan mereka jelas bersihkan bukan hanya tunjangan dan fasilitas, tapi juga kursi kotor, bohir, dan mafia yang bersembunyi di balik parlemen.

Kalau rakyat sudah turun, berarti kesabaran sudah habis.

Pertanyaan Terbuka

Aksi “Sapu Lidi” ini menjadi simbol ketidakpercayaan publik terhadap wakilnya sendiri. Pertanyaan besar kini mengemuka:

Apakah DPR dan DPRD berani melakukan pembersihan dari dalam? Atau rakyatlah yang pada akhirnya akan menyapu habis sistem politik yang dianggap busuk sejak awal?

 

Penulis [Monica Nathan]

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *