Detikinewsinfo.Com] Saat embun masih basah menyelimuti dedaunan dan mentari baru menyapa dari balik atap rumah warga, Satgas TMMD ke-125 Kodim 0316/Batam sudah berdiri tegap menyambut hari. Bukan dengan gemuruh alat berat, melainkan melalui keheningan yang syahdu: doa bersama.
Inilah rutinitas pagi yang menjadi tradisi Satgas TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) Reguler ke-125 setiap harinya, termasuk pada Minggu (01/08/2025). Dalam formasi apel pagi, para prajurit berkumpul, menundukkan kepala, dan memanjatkan doa penuh kekhusyukan—memohon keselamatan, kelancaran, dan keberkahan atas setiap langkah pengabdian mereka.
Kapten Inf Asman Aritonang menyebut, kebiasaan ini adalah landasan spiritual dari setiap misi kemanunggalan yang mereka jalankan.
> “Kami sadar, pekerjaan ini bukan sekadar membangun fisik. Ini adalah bentuk pengabdian kepada rakyat. Doa menjadi cara kami untuk tetap rendah hati, tulus, dan fokus dalam bekerja,” ujarnya.
Pelaksanaan TMMD ke-125 yang berlangsung di Kavling Sambau IV, Kelurahan Sambau, Kecamatan Nongsa, tidak hanya menargetkan pembangunan fisik seperti pengecoran jalan. Sejumlah kegiatan non-fisik juga digelar, mulai dari penyuluhan kesehatan, bela negara, hingga sosialisasi pertanian.
Yang menjadi kekuatan utama dari program ini adalah keterlibatan aktif masyarakat. Warga setempat bahu-membahu bersama Satgas, menciptakan sinergi yang menguatkan rasa kebersamaan dan solidaritas.
Tokoh masyarakat, Bapak Anjar (53), mengungkapkan rasa haru dan syukurnya atas kehadiran para prajurit di tengah-tengah warga.
“Kami sangat bersyukur. Bukan hanya karena jalan dibangun, tapi karena para tentara ini datang dengan hati. Doa pagi yang mereka ajak kami lakukan membuat kami merasa lebih dekat satu sama lain, seperti keluarga,” katanya.
Program TMMD ini akan berlangsung selama satu bulan penuh. Dengan kolaborasi antara TNI, pemerintah daerah, dan masyarakat, pembangunan yang dilakukan diharapkan membawa dampak jangka panjang—bukan hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan spiritual.
Sebab di balik deru molen dan ayunan cangkul, tersimpan harapan dan keikhlasan. Dan di balik semangat yang tak pernah padam, selalu ada doa yang mengawali semuanya di bawah langit pagi yang penuh harap.



















