Purajaya: Kenangan yang Tak Pernah Padam di Tanah Melayu Batam

Batam, Berita, Featured, KEPRI134 Dilihat
banner 468x60

Detikinewsinfo.com] Di tengah deru mesin industri dan gemerlap gedung kaca yang kini menjulang di langit Batam, ada satu nama yang masih berbisik di hati banyak orang: Hotel Purajaya.
Bangunan berarsitektur Melayu itu kini telah tiada, berganti puing dan rerumputan liar. Namun, bagi mereka yang pernah menyaksikan masa jayanya, Purajaya bukan sekadar hotel ia adalah jejak marwah Melayu yang sempat menjelma nyata di tengah kota yang perlahan melupakan akarnya.

banner 336x280

Dari Pesisir Tradisi ke Denyut Modernisasi

Sebelum menjadi kota industri yang sibuk, Batam hanyalah pulau-pulau tenang di bawah naungan Kesultanan Riau–Lingga.
Nelayan dan pelaut Melayu hidup di sana dengan adat yang luhur: marwah dijunjung, budi dijaga, sopan santun dijadikan pelita hidup.

Namun sejak 1970-an, ketika Otorita Batam dibentuk untuk membuka kawasan industri, kehidupan di pulau ini berubah drastis. Di antara geliat pembangunan yang pesat, sebagian nilai-nilai lama mulai tergeser.
Di tengah gelombang itulah, berdiri Hotel Purajaya, seolah menjadi jembatan antara masa silam dan masa kini  sebuah rumah bagi identitas Melayu di tengah arus modernisasi.

Purajaya, Simbol Keanggunan Melayu Modern

Didirikan pada awal 1990-an oleh seorang pengusaha lokal berdarah Melayu, Purajaya dirancang dengan visi yang indah: membangun kemewahan tanpa meninggalkan akar.

Bangunannya memadukan kemegahan modern dengan sentuhan arsitektur klasik Melayu: atap lancang kuning yang megah, ukiran pucuk rebung dan bunga tanjung, pilar jati berwarna keemasan, dan aroma pandan di lobi yang menyambut setiap tamu seperti dalam tradisi istana Riau-Lingga.

“Purajaya itu Melayu dalam bentuk nyata,” kenang Harry Harianto, salah satu mantan karyawan.
“Kami menyambut tamu dengan kompang dan zapin. Rasanya seperti menghidupkan marwah Batam yang sebenarnya.”

Bagi masyarakat Melayu saat itu, Purajaya bukan sekadar tempat singgah  ia adalah lambang martabat dan kebanggaan.
Ballroom-nya menjadi saksi berbagai acara budaya: Festival Zapin, musyawarah adat, hingga pertemuan tokoh Melayu Kepulauan Riau.
Purajaya, dalam makna terdalamnya, adalah panggung bagi roh Melayu Batam.

Rumah yang Hilang, Tapi Tak Terlupakan

Bagi para pegawai, Purajaya lebih dari sekadar tempat bekerja.
Mereka menyebutnya “rumah kedua,” tempat di mana nilai-nilai Melayu hidup melalui keseharian  dari makan bersama di dapur staf, saling menolong, hingga menjaga sopan santun dalam setiap langkah.

“Pemiliknya dekat sekali dengan kami,” ujar Harry pelan.
“Kalau ada yang sakit, dijenguk. Kalau ada masalah, dibicarakan bersama. Kami merasa satu keluarga.”

Kini, setelah bangunan itu dirobohkan pada tahun 2023 akibat sengketa aset yang panjang, semua itu hanya tinggal kenangan.
Hanya foto-foto lama dan percakapan nostalgia di grup WhatsApp mantan karyawan yang masih menyimpan hangatnya masa itu.

“Kalau lewat bekas hotel itu, rasanya seperti lewat masa lalu sendiri,” kata Harry lirih.
“Purajaya sudah tiada, tapi perasaannya tak pernah hilang.”

Runtuhnya Sebuah Simbol

Pembongkaran Hotel Purajaya pada tahun 2023 menjadi luka kultural bagi masyarakat Melayu Batam.
Bangunan yang sempat masuk daftar potensi cagar budaya itu diruntuhkan tanpa sempat memperoleh perlindungan hukum yang layak.

“Ini bukan soal hotel, tapi soal warisan,” ujar H. Rusdi Ahmad, pemerhati sejarah Melayu Kepri.
“Purajaya mengingatkan bahwa Batam pernah punya jiwa, bukan hanya beton dan angka investasi.”

Peristiwa itu menandai bukan hanya hilangnya satu bangunan, tetapi runtuhnya satu babak sejarah babak ketika Batam masih memandang dirinya sebagai bagian dari Riau-Lingga, bukan sekadar kawasan ekonomi.

Batam dan Bayang-Bayang Krisis Identitas

Dalam setengah abad terakhir, Batam tumbuh menjadi kota industri dengan penduduk dari berbagai daerah.
Namun, di balik keberagaman itu, perlahan suara Melayu kian lirih.
Nama-nama kampung dan jalan masih berbahasa Melayu, tapi semangat di baliknya mulai pudar.

Sejarawan Dr. Ramlah Zahari dari Universitas Maritim Raja Ali Haji mengingatkan:

“Batam, Penyengat, dan Lingga itu satu jalur sejarah.
Kalau Batam mengabaikan akar Melayunya, maka yang hilang bukan sekadar bangunan, tapi ingatan tentang siapa kita.”

Harapan dari Puing-Puing

Dari reruntuhan Purajaya, kini muncul gagasan untuk membangun Taman Budaya Melayu Batam sebuah ruang untuk mengenang dan menghidupkan kembali semangat kebudayaan yang nyaris lenyap.
Museum mini, ruang pertunjukan zapin, dan pusat dokumentasi sejarah Batam diusulkan sebagai pengganti simbolik dari Purajaya yang telah tiada.

“Kalau Purajaya tak bisa kita bangun lagi, biarlah semangatnya tetap hidup,” ujar Datuk Ismail Ahmad, tokoh adat setempat.
“Batam harus punya ruang yang mengingatkan bahwa kemajuan tak harus meniadakan akar.”

Di Antara Debu dan Rindu

Kini, di bekas lokasi hotel itu, hanya ada tanah kosong dan sisa pondasi yang perlahan tertutup semak.
Namun sesekali, ada yang berhenti di sana menatap diam, atau sekadar mengambil napas panjang seperti berbicara dengan masa lalu.

Purajaya memang telah runtuh,
tapi jiwanya masih bernafas di hati mereka yang percaya bahwa Melayu bukan sekadar warisan, melainkan cahaya yang tak pernah padam.

Dan di antara debu dan doa itu,
Purajaya tetap hidup  sebagai kenangan yang meneguhkan siapa kita sebenarnya.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *