Kasus Purajaya: Kejahatan Menghapus Jejak Sejarah Pengusaha Melayu Pribumi Kepri

Batam, Berita, KEPRI, NASIONAL139 Dilihat
banner 468x60

Ketika Pemerintah Takluk di Bawah Mafia Tanah dan Melupakan Marwah Melayu

Detikinewsinfo.com] Peristiwa perobohan Hotel Purajaya di Batam bukan sekadar urusan sengketa lahan atau perizinan bangunan. Di balik puing-puing bangunannya yang kini rata dengan tanah, tersimpan luka kolektif masyarakat Melayu Kepulauan Riau  luka akibat dihapusnya jejak perjuangan, identitas, dan sejarah pengusaha pribumi di tanah sendiri.

banner 336x280

Bagi banyak tokoh Melayu, kasus ini adalah “kejahatan budaya dan sejarah” yang memperlihatkan lemahnya negara di hadapan kekuatan ekonomi gelap  yang kerap disebut masyarakat sebagai mafia tanah.

Hotel Bersejarah, Saksi Perjuangan Provinsi Kepri

“Saya tidak kenal dekat dengan pemiliknya, Ir. H. Zulkarnaen Kadir, tapi saya tahu pasti hotel itu digunakan untuk perjuangan pembentukan Provinsi Kepri. Saya pernah ikut rapat di sana.”
Demikian kesaksian Ir. Nazar Machmud, tokoh Melayu Kepri yang kini menetap di Jakarta, saat berbincang dengan wartawan pada Rabu (15/10/2025).

Menurutnya, Hotel Purajaya bukan sekadar bangunan bisnis, melainkan ruang simbolik perjuangan masyarakat Melayu Kepulauan Riau  tempat para pejuang merancang langkah awal untuk memisahkan diri dari Riau Daratan dan membentuk provinsi tersendiri pada awal 2000-an.

“Saya masih ingat interior hotel itu: tiang-tiangnya dari batang kelapa yang dicat hitam, sederhana tapi sangat khas Melayu. Di situ dulu, Gus Dur (KH Abdurrahman Wahid) juga pernah berjumpa dengan tokoh-tokoh Kepri. Itu bukti kedekatan beliau dengan masyarakat Melayu,” ujar Nazar.

Dari Ruang Rapat ke Reruntuhan

Kini, tempat yang dahulu menjadi pusat pergerakan itu lenyap  dirobohkan tanpa penghormatan terhadap nilai sejarah dan perjuangan yang dikandungnya.
“Perobohan itu bukan hanya menggusur bangunan, tapi juga menggusur sejarah. Menghapus jejak pengusaha Melayu yang dulu berdiri dengan idealisme dan gotong royong.” tutur Nazar dengan nada getir.

Ia menyebut tindakan pencabutan hak atas tanah dan pembongkaran bangunan sebagai “bentuk penenggelaman sejarah pengusaha pribumi”.
“Ini bukan sekadar sengketa lahan. Ini perampasan identitas. Pemerintah tidak boleh diam.”

Melayu Kepri: Dari Riau-Lingga ke Indonesia

Melayu Kepri, dahulu dikenal sebagai Riau-Lingga, memiliki peran sentral dalam perjalanan sejarah bangsa. Dari tanah inilah Bahasa Melayu berkembang menjadi Bahasa Indonesia, dan Aksara Arab Melayu (Armel) menjadi lambang peradaban dan kearifan lokal.

“Jika kita menghapus bangunan yang menjadi saksi perjuangan tokoh-tokoh Melayu, berarti kita juga menghapus akar sejarah Indonesia,” tegas Nazar.

Suara dari Jakarta: Catatan Nazar Machmud

Nazar Machmud bukan sosok baru dalam sejarah pergerakan.
Sebagai tokoh Angkatan 66 di Riau, ia dikenal karena kiprahnya dalam membebaskan Pekanbaru dari tekanan politik dan pengaruh ideologi ekstrem di masa Orde Lama.

“Waktu itu kami berjuang agar rakyat Riau bisa bicara, agar informasi tidak dibungkam. Saya dipenjara bersama puluhan tokoh masyarakat karena menentang ketidakadilan. Tapi kami tidak pernah menyerah,” kenangnya.

Kini, di usia senja, Nazar menyaksikan lagi bentuk ketidakadilan  kali ini terhadap bangsanya sendiri: pengusaha Melayu pribumi yang terpinggirkan di tanah leluhur.

Pemerintah yang Takluk

Kasus Purajaya menunjukkan bagaimana otoritas negara tampak tak berdaya menghadapi kekuatan modal dan jaringan mafia tanah.
Perizinan yang tumpang tindih, kekaburan status lahan, dan lemahnya perlindungan hukum terhadap pemilik sah menjadi pola berulang di Batam  dan ironisnya, justru menimpa warga tempatan yang selama ini paling patuh pada hukum.

“Negara seolah berpihak pada kekuasaan ekonomi, bukan pada kebenaran sejarah. Padahal di hotel itu dulu, semangat membentuk Provinsi Kepri lahir. Kini simbolnya dihancurkan tanpa makna,” kata Nazar.

Seruan Menulis Ulang Sejarah

Nazar Machmud kini tengah menyelesaikan buku sejarah objektif tentang pembentukan Provinsi Kepri.
Ia berharap, kisah tragis Hotel Purajaya dapat masuk sebagai bab penting dalam sejarah itu sebagai pengingat bagi generasi muda agar tidak dibutakan oleh narasi sepihak.

“Saya mendukung semua media dan penulis yang menyoroti kasus ini. Kirimkan tulisan itu ke Tim Penulis Sejarah Pembentukan Provinsi Kepri  ke Prof. A. Malik dan tim inisiatif Huzrin Hood dan Sudirman Almon. Sejarah harus ditulis apa adanya, bukan berdasarkan ego,” tegasnya.

Dalam bukunya berjudul More Than Batam, Nazar telah menulis 43 halaman khusus tentang perjuangan pembentukan Provinsi Kepri  bagian dari 280 halaman total karya tersebut.
“Saya menulis agar generasi masa depan tidak dicekoki oleh sejarah yang manipulatif,” ujarnya.

Keadilan dan Marwah Melayu

Bagi masyarakat Melayu Kepri, Hotel Purajaya bukan hanya bangunan  melainkan simbol marwah.
Ketika simbol itu dihancurkan tanpa penjelasan, yang roboh bukan hanya dinding dan tiang, tetapi juga kepercayaan terhadap keadilan negara.

Kasus Purajaya menjadi ujian besar bagi pemerintah:
Apakah keberpihakan mereka masih kepada rakyat dan sejarah bangsanya, atau sudah sepenuhnya tunduk di bawah kekuasaan modal dan mafia tanah.

Jika negara terus berdiam, maka sejarah akan mencatat:
“Pemerintah pernah membiarkan sejarah Melayu dihapus di atas tanahnya sendiri.”

Penutup: Jangan Biarkan Sejarah Dipunahkan

Perobohan Hotel Purajaya adalah alarm keras bahwa penghapusan sejarah tidak selalu dilakukan dengan senjata, tetapi dengan alat berat dan surat izin.
Dan di antara debu reruntuhannya, masyarakat Melayu kembali mempertanyakan:
Di manakah negara ketika keadilan dan sejarah mereka dirampas?

 

Penulis:Monica Nathan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *