Ketika Negeri “Fobia” pada Kejujuran, Melayu Tempatan Dikorbankan

Berita, Featured, NASIONAL149 Dilihat
banner 468x60

Batam – 12 Oktober 2025

Detikinewsinfo.com] Di negeri ini, kejujuran telah berubah menjadi penyakit langka.
Siapa pun yang terlalu mencintai kejujuran, kini bukan dianggap teladan, tapi malah dianggap ancaman.
Siapa yang berani berbicara apa adanya, dilabeli provokator.
Siapa yang menolak suap, dicap musuh sistem.

banner 336x280

Negeri ini tampak damai bukan karena bersih dari persoalan,
melainkan karena orang-orang jujur telah kehabisan tempat untuk berdiri.

Ketika Kejujuran Dianggap Ancaman

Lihatlah Batam hari ini  pulau industri yang mestinya menjadi wajah kemajuan ekonomi nasional.
Namun di balik gedung-gedung megah dan slogan investasi, aroma busuk korupsi dan mafia lahan menyeruak semakin kuat.

Kasus perobohan Hotel Purajaya menjadi salah satu simbol paling mencolok dari wajah bobrok itu.
Bangunan yang dulunya menjadi kebanggaan masyarakat Melayu berdiri sah di atas izin resmi, memberi lapangan kerja dan pemasukan daerah  kini tinggal puing.

Mereka yang berani bersuara tentang kejanggalan itu kini hidup dalam tekanan.
Ada yang diintimidasi, ada yang dikriminalisasi, dan tak sedikit yang difitnah.

Begitulah cara negeri ini memperlakukan mereka yang jujur.
Jika tak bisa dibeli, maka harus dibungkam.

Negara yang Gagap Menghadapi Keberanian

Ironi terbesar republik ini adalah ketika pejabat gagap menghadapi keberanian yang lahir dari kejujuran.

Mafia lahan mengatur skenario dari balik meja makan,pejabat daerah menunggu instruksi pusat,penegak hukum menunggu “sinyal” dari atasan,dan hakim menanti “petunjuk” yang datang dalam bentuk amplop.

Semakin tebal amplopnya, semakin jelas arah keputusannya.

Sementara itu, masyarakat Melayu hanya bisa menatap reruntuhan Purajaya —
reruntuhan kehormatan dan marwah mereka sendiri.

Negara memilih diam.
Sebab di balik diamnya, tersimpan ketakutan:
ketakutan terhadap kebenaran yang bisa mengguncang kepentingan besar.

Melayu: Sabar, Tapi Tidak Buta

Masyarakat Melayu dikenal sabar, beradat, dan menjunjung tinggi adab.
Namun jangan keliru  kesabaran bukan tanda kebodohan.

Dari Batam hingga pulau-pulau kecil di Kepri, rakyat Melayu tahu siapa yang bermain di belakang layar.

Mereka tahu siapa yang mengatur proyek, siapa yang merampas hak, dan siapa yang bersembunyi di balik kebijakan.

Ketegangan kini kian terasa.
Dan seperti dalam setiap babak sejarah,
Melayu mungkin diam tapi mereka menunggu.

Menunggu saat ketika kebenaran akhirnya menemukan jalannya sendiri.

Ketika Mafia Mengatur Negara

Kita sedang hidup di masa aneh.
Mafia punya nyali gila, pejabat punya kepentingan, rakyat hanya punya kesabaran.
Tapi kesabaran pun ada batasnya.

Kini hukum sudah kehilangan maknanya.
Pasal bisa diputar sesuai pesanan,
sanksi bisa dihapus dengan sumbangan,
dan rasa malu dianggap hambatan karier.

Yang lebih berbahaya  banyak pejabat kini tidak lagi malu terlihat korup,
karena mereka tahu rakyat sudah lelah berharap.

Padahal bangsa ini pernah dibangun oleh manusia-manusia yang menanamkan nilai kejujuran.

Nilai itu ditanam oleh orang Melayu  yang mengenalkan bahasa persatuan, sopan santun, dan harga diri ke seluruh Nusantara.

Ironisnya, negeri yang lahir dari akar budaya Melayu justru menendang pemilik akar itu keluar dari tanahnya sendiri.

Prabowo dan Cermin Retak di Kepri

Presiden Prabowo Subianto berbicara besar tentang kehormatan, kedaulatan, dan keadilan.

Namun di Kepulauan Riau, tiga kata itu kini hanya terdengar seperti slogan kosong.

Presiden bicara lantang soal pemberantasan korupsi,tapi di Batam, korupsi adalah urat nadi sistem.

Rakyat Melayu menunggu  bukan kata-kata, tapi tindakan.

Laporan hukum sudah disampaikan.
Bukti telah diserahkan ke KPK.
Kini aparat tinggal bergerak.

Pertanyaannya sederhana:
Beranikah mereka menyentuh tangan-tangan besar di balik layar?
Ataukah negeri ini akan kembali menyuguhkan babak lama
yang kecil ditangkap, yang besar diselamatkan?

Bangsa yang Takut pada Cermin

Masalah utama negeri ini bukan korupsi.
Masalahnya adalah ketakutan terhadap cermin.

Cermin kejujuran.

Sebab di sana, wajah sendiri tampak kotor.

Rakyat Melayu di Batam dan Kepri kini memegang cermin itu tinggi-tinggi.
Mereka tidak menuntut uang, tidak mencari jabatan.

Mereka hanya menuntut kejujuran — sesuatu yang tak bisa dibeli dan tak bisa dinegosiasikan.

Dan justru itu yang paling menakutkan bagi bangsa yang sudah terbiasa berdusta.

Penutup: Marwah Tak Bisa Dibungkam

Hotel Purajaya boleh dirobohkan,
tapi marwah Melayu tidak bisa dikubur.

Ia hidup di setiap lidah yang berani bicara benar,di setiap hati yang menolak tunduk pada ketidakadilan,dan di setiap mata yang menatap masa depan dengan keyakinan bahwa keadilan masih mungkin.

Negeri ini mungkin bisa memenjarakan orang yang jujur,tapi tidak bisa memenjarakan ingatan rakyat terhadap kebenaran.

Dan bila gelombang keadilan itu datang,
ia tidak akan lahir dari istana,melainkan dari laut Melayu ,laut yang selama ini dikotori oleh keserakahan negara.

Karena di sanalah kebenaran sedang menunggu ombak berikutnya.

Dan ombak, seperti halnya Melayu, tidak pernah benar-benar diam.
Ia hanya menunggu waktu.
Dan ombak besar itu cepat atau lambat  pasti akan datang.

 

 

Penulis : Monica Nathan

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *