Saatnya Bos Rokok Ilegal di Tangkap
Detikinewsinfo.com] Penangkapan kapal pompong di perairan Setokok, Batam, Kamis (25/9) lalu, yang mengangkut 48 dus rokok ilegal tanpa pita cukai, kembali menegaskan satu hal: peredaran rokok ilegal di Kepulauan Riau tidak pernah benar-benar berhenti.
Patroli laut berhasil mengamankan dua orang kurir, satu kapal kayu, dan puluhan dus rokok merek T3, OFO, HD, . Namun publik tentu bertanya: berapa kali lagi kurir kecil ditangkap tanpa pernah menyentuh sindikat besar di balik bisnis ini?
Rokok ilegal bukan sekadar pelanggaran administrasi. Ini adalah kejahatan ekonomi terorganisir yang merugikan negara triliunan rupiah setiap tahun. Uang yang seharusnya masuk ke kas negara untuk pendidikan, kesehatan, dan pembangunan, malah mengalir ke kantong mafia. Lebih ironis lagi, produk murah ini justru mendorong konsumsi rokok di kalangan pelajar dan masyarakat miskin.
Sayangnya, pola penindakan selama ini monoton: tangkap pompong, sita barang bukti, jerat pasal cukai. Sementara itu, gudang-gudang penyimpanan di pinggir Batam tetap beroperasi. Merek-merek rokok ilegal yang sama terus muncul. Pasar gelap tetap banjir produk. Artinya, bandar besar tetap nyaman, sementara rakyat kecil dijadikan tameng.
Pemerintah dan aparat hukum tak boleh berhenti pada “operasi tangkap kurir”. Jika benar serius, penegak hukum harus membongkar jaringan mafia rokok ilegal yang selama ini disebut-sebut memiliki perlindungan kuat. Transparansi penindakan juga penting: masyarakat berhak tahu siapa pemasok besar di balik merek-merek yang beredar luas itu.
Batam bukan hanya kota industri dan perdagangan, tapi juga gerbang perbatasan negara. Membiarkan rokok ilegal merajalela sama saja menggadaikan kedaulatan ekonomi. Laut Indonesia bukan milik mafia.
Kami mendesak aparat Polairud ,Bea Cukai, hingga Polda Kepri untuk membuktikan keberanian mereka: bukan sekadar menangkap pompong, tetapi juga menjerat bos besar yang selama ini bersembunyi di balik layar. Tanpa itu, pemberantasan rokok ilegal hanyalah sandiwara rutin yang tak akan pernah menutup kebocoran negara.



















