Melayu Kepri: Jantung Bangsa yang Mulai Layu

banner 468x60

Akar yang Terlupakan

Detikinewsinfo.com] Dari Pulau Penyengat, bahasa Indonesia menemukan bentuknya. Dari tanah Melayu inilah kata “merdeka” mula-mula digema, jauh sebelum republik berdiri. Namun kini, di tempat bahasa itu lahir, Melayu seakan kehilangan rumahnya sendiri.

banner 336x280

Di Kepulauan Riau (Kepri), di mana sejarah bangsa bermula, identitas Melayu justru terpinggir di tengah gegap industri dan pembangunan yang tak lagi berpihak pada akar budaya.

Janji Pemekaran yang Tak Sepenuhnya Ditepati

Dua dekade lalu, masyarakat Kepri berjuang keras agar provinsi ini berdiri sendiri, terpisah dari Riau Daratan.

Mereka ingin otonomi, ingin agar anak tempatan bisa berdaulat di tanah sendiri.
Provinsi Kepri pun lahir tahun 2002 dengan semangat besar: menegakkan marwah Melayu dan mengelola kekayaan lautnya untuk rakyat sendiri.

Namun dua puluh tiga tahun berlalu, banyak yang berubah kecuali kesejahteraan rakyatnya.

Kekuasaan ekonomi tetap terkonsentrasi di tangan lembaga otorita pusat seperti BP Batam, sementara kebijakan daerah sering hanya menjadi pelengkap.

Masyarakat pesisir yang dulu hidup dari laut kini terdesak oleh industrialisasi dan investasi asing yang jarang berpihak.

“Kita berpisah dari Riau bukan untuk sekadar ganti administrasi, tapi untuk menegakkan martabat. Sekarang, marwah itu justru perlahan hilang,” ujar seorang tokoh Melayu di Tanjungpinang dengan nada getir.

KRISIS – Ketika Melayu Jadi Tamu di Rumah Sendiri

Melayu adalah peradaban yang membangun bangsa ini.

Dari Riau-Lingga, Bahasa Melayu Riau menjadi dasar bahasa Indonesia bahasa pemersatu seluruh nusantara.

Namun kini, di Kepri, jejak peradaban itu nyaris tak terlihat.

Anak muda lebih fasih berbicara bahasa asing ketimbang bahasa ibunya.

Gurindam tinggal di dinding sekolah, syair tinggal di acara seremonial,dan adat istiadat hanya tampil pada panggung festival budaya  tanpa ruh, tanpa arah.

Di Batam, pusat industri yang digadang sebagai etalase Kepri, Melayu kian tersisih.
Sementara di pulau-pulau kecil, masyarakat nelayan kehilangan daya hidup.

Laut yang dulu menjadi sumber kehidupan kini menjadi kawasan terlarang, dijaga pagar-pagar ekonomi.

“Dulu laut adalah jiwa kami. Sekarang laut hanya bisa kami pandang dari jauh,” kata Datuk Sarjinan, tokoh masyarakat Melayu di Karimun.

REFLEKSI – Menengok Cermin Sejarah

Di seberang sana, Riau Daratan justru tengah menggeliat dengan wacana Daerah Istimewa Riau  sebuah gagasan untuk menegaskan hak istimewa budaya dan ekonomi atas dasar sejarah Melayu.

Ironisnya, Kepri yang seharusnya menjadi poros sejarah itu justru diam.

Padahal, secara historis, Kepri memiliki legitimasi yang jauh lebih tua dan kuat.
Dari sini berdiri Kesultanan Riau-Lingga, pusat intelektual dan politik Melayu Nusantara.

Dari sini pula lahir tokoh-tokoh seperti Raja Ali Haji, pengarang Gurindam Dua Belas dan pelopor tata bahasa Melayu tinggi warisan yang menjadi fondasi bahasa nasional.

“Kalau Melayu Kepri diam, itu bukan karena tidak mampu. Tapi karena terlalu lama diajarkan untuk sopan,” ucap seorang budayawan di Tanjungpinang dengan getir.

Kini, kesopanan itu menjadi senyap yang mematikan.

Melayu di Kepri seolah takut menuntut haknya sendiri hak atas tanah, budaya, dan kesejahteraan.

SERUAN AKHIR – Menjemput Marwah, Menyiram Akar Bangsa

Sudah saatnya Kepri bangkit bukan dengan nostalgia, tetapi dengan keberanian.
Keberanian menuntut pengakuan atas sejarah, hak, dan jati diri.

Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepri perlu keluar dari bayang seremonial dan menjadi garda terdepan memperjuangkan martabat anak negeri.

Keistimewaan bagi Kepri bukanlah kemewahan, tetapi kewajaran sejarah  karena dari sinilah lahir akar bahasa, budaya, dan semangat bangsa.

Indonesia berutang kepada Kepri.
Dari Pulau Penyengat lahir bahasa pemersatu. Dari Laut Natuna berdiri benteng maritim. Dari tanah Melayu ini, lahir kebangsaan yang mempersatukan pulau-pulau menjadi republik.

Kini, pertanyaannya tinggal satu: Apakah bangsa ini rela melihat akar sejarahnya layu di tanah sendiri?

Sebab jika akar itu mati,pohon besar bernama Indonesia tak lagi punya tempat berpijak.

banner 336x280

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *